, ,

Mojokerto Genjot Normalisasi Sungai dan Waduk Antisipasi Banjir

oleh -824 Dilihat

Antisipasi Banjir, Mojokerto Keruk 20 Km Sungai Dangkal dan Normalisasi Waduk

Kota Mojokerto- Memasuki musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Pemkab Mojokerto Genjot tidak berhenti bekerja. Justru, momen ketika permukaan air surut ini dimanfaatkan secara maksimal untuk melakukan aksi pencegahan bencana yang menyeluruh. Upaya normalisasi sungai dan waduk sedang dikebut untuk mengantisipasi ancaman banjir ketika musim hujan tiba nanti.

Mojokerto Genjot Normalisasi Sungai dan Waduk Antisipasi Banjir
Mojokerto Genjot Normalisasi Sungai dan Waduk Antisipasi Banjir

Baca Juga : Pemkab Mojokerto Pasang PJU di Jalur Turunan Ngeprih Pacet untuk Tingkatkan Keselamatan

Hingga saat ini, capaiannya terhitung signifikan. Tak kurang dari 20 kilometer aliran sungai yang mengalami pendangkalan telah berhasil dikeruk

Tujuannya jelas: meningkatkan kapasitas tampung air sehingga dapat mencegah luapan yang kerap membanjiri pemukiman warga.

Menurut Rois Arif Budiman, Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, program normalisasi ini bersifat komprehensif. “Yang kami lakukan tidak hanya berfokus pada sungai-sungai yang dangkal. Kami juga menyasar berbagai saluran air dan waduk untuk mengembalikan fungsinya sebagai tempat penampungan air yang optimal. Kegiatan ini telah kami mulai sejak Februari lalu, dengan beberapa lokasi merupakan usulan langsung dari pihak desa,” jelas Rois.

Lokasi pengerukan saat ini dipusatkan pada beberapa desa yang menjadi langganan banjir, khususnya daerah yang dilintasi oleh aliran Sungai Sadar. Dua di antaranya adalah Desa Balongmasin di Kecamatan Pungging dan Desa Tinggarbuntut di Kecamatan Bangsal. Pemilihan lokasi ini berdasarkan prioritas untuk melindungi area yang paling rentan terdampak.

Tidak hanya sungai, upaya serupa juga dilakukan pada sejumlah waduk penampungan air di bagian utara sungai

Waduk Desa Temuireng dan Waduk Desa Banyulegi di Kecamatan Dawarblandong menjadi sasaran pengerukan sedimen. “Untuk normalisasi sungai, totalnya sudah mencapai 20 km. Sementara untuk revitalisasi waduk, saat ini baru berjalan di sekitar dua titik,” tambah Rois.

Rois juga menegaskan bahwa ruang lingkup pekerjaan ini masih sangat mungkin untuk ditambah. Pasalnya, antusiasme dari masyarakat cukup tinggi, dengan beberapa desa lainnya juga telah mengajukan permohonan untuk dilakukan pengerukan sedimentasi. Tujuannya sama: agar debit air hujan nanti dapat tertampung dengan lebih baik, sehingga risiko luapan air yang memicu banjir dapat diminimalisir.

Manfaat dari program ini pun dirasakan multi-sektor. Selain untuk pencegahan banjir, normalisasi waduk dan saluran air sangat berdampak positif pada sektor pertanian. “Waduk adalah penyimpan air utama untuk irigasi sawah. Dengan mengembalikan bentuk dan kapasitasnya, kami memastikan fungsinya kembali maksimal. Ini adalah langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah kami, membantu para petani untuk memaksimalkan hasil panen mereka,” pungkas Rois menutup wawancara.

Dengan langkah proaktif ini, diharapkan masyarakat Kabupaten Mojokerto dapat menjalani musim penghujan mendatang dengan lebih tenang, tanpa khawatir akan terjangan banjir, sekaligus memastikan sawah-sawah mereka tetap terairi dengan baik.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.