Kampung Cor Kuningan Trowulan: Kisah Legendaris dari Mojokerto yang Mendunia
Kota Mojokerto- Tersembunyi di antara hamparan sawah dan sisa-sisa kejayaan Majapahit, Kampung Bejijong di Trowulan, Mojokerto, telah menjelma menjadi pusat seni cor logam kuningan dan tembaga yang mendunia. Karya-karya buatan tangan para perajin di sini tidak hanya memukau dengan detailnya yang rumit, tetapi juga menyimpan sejarah unik yang sering disalahpahami.

Baca Juga : Pemkab Perketat Penggunaan Sound Horeg
Asal-Usul yang Tak Terduga: Warisan Kolonial, Bukan Majapahit
Banyak orang mengira bahwa keahlian mengecor logam di Bejijong adalah peninggalan langsung dari era keemasan Majapahit. Namun, kenyataannya jauh lebih menarik. Teknik ini justru diperkenalkan oleh seorang arsitek Belanda bernama Henri Maclaine Pont, yang bekerja di Museum Majapahit pada awal abad ke-20.
“Orang sering romantisasi bahwa ini warisan langsung dari empu-empu Majapahit, padahal seni cor logam modern di sini bermula dari kolaborasi unik antara ilmu Barat dan ketekunan pribumi,” ungkap Ayuhanafiq, sejarawan lokal yang mendalami sejarah Trowulan.
Dari Hutan Belantara ke Pusat Seni Logam
Pada masa kolonial, Trowulan hanyalah kawasan berhutan lebat yang menyimpan reruntuhan kerajaan besar. Baru pada era Bupati RAA Kromodjojo Adinegoro, situs-situs Majapahit mulai digali dan dipelajari. Maclaine Pont, yang terlibat dalam proyek restorasi, membawa serta pengetahuan teknik pengecoran logam dari Eropa.
Di sinilah kisah Pak Sabar, seorang pekerja museum yang cerdas, menjadi titik balik. Pada 1941, ia diam-diam mempelajari proses pembuatan patung dari lilin yang dilakukan Pont. Dengan tekun, ia mencoba meniru teknik tersebut menggunakan timah—logam yang lebih mudah dilebur—untuk membuat replika arca Ganesha.
“Patung Ganesha buatan Pak Sabar itu masih kasar, tapi menjadi bukti awal ketekunannya. Ia belajar secara otodidak, mengamati setiap tahapan yang dilakukan Pont,” jelas Ayuhanafiq.
Dari “Tukang Gawe Reco” ke Guru Para Perajin
Meski sempat terhenti akibat pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan, Pak Sabar tetap setia merawat koleksi museum. Setelah pensiun sebagai PNS pada 1963, ia mulai serius mengembangkan keahliannya dan melatih warga sekitar.
Tahun 1970-an, Bejijong telah menjadi sentra kerajinan logam dengan 28 perajin mandiri yang merupakan murid-murid Pak Sabar.
Warisan Abadi: Seni yang Hidup dan Menginspirasi
Kini, Kampung Bejijong tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga bukti nyata bagaimana sebuah keterampilan bisa bertransformasi menjadi identitas daerah. “Dia membuktikan bahwa warisan terbesar bukanlah benda mati, melainkan pengetahuan yang terus hidup di tangan generasi penerus.”
Mengapa Bejijong Istimewa?
-
Kombinasi Sejarah & Teknologi – Teknik cor logam modern dipadukan dengan inspirasi artefak Majapahit.
-
Proses Kerajinan Tradisional – Masih menggunakan metode manual dengan sentuhan tangan ahli.
-
Karya yang Mendunia – Dari hiasan rumah hingga replika museum, produk Bejijong dicari kolektor internasional.
-
Wisata Edukasi – Pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan dan belajar sejarahnya.
Jika Anda berkunjung ke Trowulan, jangan lewatkan kesempatan menyaksikan keahlian para perajin Bejijong. Di balik setiap logam yang mengkilap, tersimpan cerita tentang kegigihan, kreativitas, dan warisan budaya yang terus mengalir dari masa ke masa.





